Sunday, May 11, 2014

Prawatasari Pahlawan Cianjur

“Haji Prawatasari Pahlawan Asal Cianjur”
(foto lukisan Haji Prawatasari karya Sonny Ahmad Soleh alm)
Kisah kepahlawan tokoh Cianjur masa pemerintahan dalem-dalem sepertinya kurang populer. Ketokohan para dalem umumnya hanya mengisahkan perpindahan dari satu tempat ketempat lain, atau tentang penamaan nama kampung saja. Malah Dalem Cikundul Bupati Cianjur ke I, perjalanan sejarahnya seolah final dikisah pernikahannya dengan putri jin hingga melahirkan tiga anak, Rd. Suryakancana, Indang Sukaesih dan Andaka Wiru Sajagat. Dalem Cikundul adalah seorang penyebar agama Islam, dan masih banyak kisah lainnya yang layak ditampilkan hingga bisa menjadi suri tauladan bagi generasi muda, namun lagi-lagi para pejabat Cianjur dan umumnya warga seolah merasa cukup hanya mengenal Dalem Cikundul saat menikahi putri jin saja, ironis !
Demikian juga dengan Haji Prawatasari yang kini namanya diabadikan menjadi nama lapang olahraga di Joglo, kendati hampir setiap hari Minggu lapang ini dipadati warga, dan dijadikann tempat upacara resmi aparat Pem.Kab Cianjur, sepertinya mereka tidak merasa perlu untuk mencari informasi bagaimana taktik gerilya Haji Prawatasari yang pernah membuat kewalahan penjajah Belanda. Pada kesempatan ini akan dikupas tentang kepahlawan Haji Prawatasari dalam rangka memperingati Hari Jadi Kab. Cianjur yang 336 , apalagi bulan ini masih hangat-hangatnya sauna memperingati HUT Proklamasi Kemerdekaan R.I yang ke 68.
Jadi diri Haji Prawatasari hingga saat ini masih belum jelas, apakah ia keturunan Dalem Cikundul Cianjur , keturunan Raja Panyalu, atau Keturunan Raja Jampang Manggung ? maka sepertinya wajar tokoh yang sejaman dengan Bupati Cianjur Aria Wiratanu II ini juga bergelar Aria Salingsingan yang artinya tokoh yang identitasnya simpangsiur. Dalam buku Sejarah Cianjur karya Bayu Suriningrat dikisahkan bahwa pemberontakan Haji Prawatasari kepada Belanda berlangsung antara tahun 1703-1706. Tokoh dengan nama kecil Raden Alit / Dalem Alit ini mulai menyerang pos Belanda pada bulan Maret 1703, ia terpanggil untuk mengusir Belanda karena saat itu rakyat Cianjur terkena beban tanam paksa pohon Tarum yang menjadi kebijakan Belanda yang menjajah Kabupaten Cianjur. Haji Prawatasari memusatkan perlawanannya didaerah Jampang (Kemungkinan bukan Jampang Cianjur Selatan, akan tetapi gunung Jampang Manggung di Cikalong Kulon) ia didukung dengan 3000 santri. Pos-pos Belanda yang diserang semula hanya sekitar Cianjur dan Bogor, namun kemudian Prawatasari menyerang Jakarta, Sumedang dll.
Pasukan Belanda akhirnya panik, mereka mulai menyelidik dan curiga ada sejumlah pejabat daerah terlibat menyokong gerakan Prawatasari. Beberapa pejabat di Bogor ditangkap dan dibunuh dengan kejam , malah Letnan. Tanujiwa (Ki Mastanu) tentara Belanda asli pribumi dibuang ke Afrika hingga gugurnya karena diketahui menyokong perjuangan Prawatasari. Belanda kemudian memberi tengat waktu kepada para Bupati di tatar Sunda, apabila dalam waktu enam bulan tidak dapat menangkap Prawatasari mereka akan dianggap sekongkol dengan Prawatasari. Menghadapi kenyataan itu, Prawatasari akhirnya mengalihkan gerakannya ke Jawa Tengah, agar para Bupati Priangan tidak terkena imbas dari perjuangannya. Namun justru takdir menjemputnya di Jawa Tengah,  di hutan Bagelen Prawatasari tertangkap, kemudian dihukum mati di Solo tanggal 12 Juli 1707.
Siapakah sebenarnya Haji Prawatasari ? ketokohannya oleh Belanda dikelompokan dengan Pangeran Diponegoro dan Ki Bagus Rangin yang juga memberontak kepada penjajah Belanda. Para pahlawan ini oleh Penjajah Belanda dan pendukungnya di sebut “Karaman Van Java” yang artinya Pengacau dari Jawa. Bagi para pejaba daerah saat itu, akan menjadi aib apabila anggota keluarganya berontak kepada Belanda, maka penggiat sejarah Prof. Drs. Yoseph Iskandar (alm) suatu ketika menarik kesimpulan bahwa sebenarnya Haji Prawatasari adalah putera bungsu Dalem Cikundul, namun silsilahnya kemudian dihapus dari terah Dalem Cikundul karena pada saat itu dianggap aib akibat berontak kepada Belanda. Apalagi dalam Wawacan Jampang Manggung dikisahkan bahwa Dalem Cikundul pernah menikah dengan Dewi Amitri putri Patih kerajaan Jampang Manggung yang beribukota di sekitar gunung Jampang Manggung Cikalong Kulon. Kemungkinan Haji Prawatasari adalah putera Dalem Cikundul dari Dewi Amitri.

Mudah-mudahan suatu waktu PemKab. Cianjur menjalin kerjasama dengan para Sejarawan untuk menelusuri jati diri Haji Prawatasari. Dan yang lebih utama Pem.Kab. Cianjur bisa mengajukan gelar Pahlawan Nasional kepada Presiden R.I. 

5 comments:

  1. Kami dari Cateringky Puncak, menerima pemesanan catering untuk berbagai acara di wilayah Cianjur dan sekitarnya. Kunjungi http://cateringkypuncak.blogspot.com

    ReplyDelete
  2. Kami dari Cateringky Puncak, menerima pemesanan catering untuk berbagai acara di wilayah Cianjur dan sekitarnya. Kunjungi http://cateringkypuncak.blogspot.com

    ReplyDelete
  3. Panuju kang...! ti taun ka taun saemut abdi, pemkab cianjur teh rada kirang perhatosan kana sajarah na.. ti ngawitan sajarah luluhur dugi ka kabudayaan na, rada kirang perhatosan. tambih deui kada cagar budayana sanes di pulasara tambihtambih malih di runtuhkeun, seueur wangunan wangunan bersejarah anu teu ka perhatoskeun. kahade nitip wangunan paninggalan karuhun anu aya di komplek kabupaten ulah dugi ka seep di pugaran.. anu katinggalna rada mernah keneh teh wewengkon bupati.. mugi kaperhatoskeun hatur nuhun

    ReplyDelete
  4. nu ti kidul ngan ngajentul, nu ti kaler pada kerek, ti kulom pating polohok, nu ti wetan ngan ngajanteng.

    ReplyDelete